BPBD Desa Gedong Jetis Dibentuk

 

Relawan BPBD Desa Gedong Jetis di Bentuk

TULUNG – Untuk meminimalisir akibat dari bencana yang masih mungkin untuk terjadi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah

 

(BPBD) tingkat Desa Gedong di Bentuk, pada Kamis (4/1) kemarin.
Dengan Desa yang memiliki 8 RW ini, dirasakan sangat tinggi minat masyarakat untuk menjadi relawan untuk mengantisipasi bencana, dimana relawan yang ikut serta dalam keanggotaan BPBD Desa Gedong Jetis ini sekitar 60 orang.
Untuk lebih meningkatkan semangat dari para relawan di Desanya ini, Kepala Desa Gedongjetis, Gatot Sasongko menjelaskan bahwa BPBD Desa Gedong Jetis akan didanai melalui Dana Desa.
“BPBD Gedong Jetis ini didanai oleh Dana Desa, sehingga kami harapkan keaktifan mereka untuk menjadi relawan bukan hanya diawal-awal saja, namun diharapkan jiwa relawan mereka akan tetap terjaga sepanjang masa,” jelas Gatot.
Sementara itu, Ketua Relawan Penanggulangan Bencana (RPB) Kecamatan Tulung, Subandiyo, mengharapkan BPBD Desa Gedongjetis terus menjaga komunikasinya, sehingga apabila terjadi suatu bencana, lebih cepat teratasi.
“Kalaupun BPBD Gedong Jetis ini kurang mampu dalam mengatasi bencana yang terjadi, bisa dikomunikasikan dengan teman-teman Relawan Kecamatan Tulung, atau bisa ditindak lanjuti ke tingkat Kabupaten Klaten,” Ujar Subandiyo.
Terkait dengan bidang kebencanaan, Kepala Bidang Kesiap-siagaan dan Pencegahan BPBD Kabupaten Klaten, Budi Prasetyo, juga turut menjelaskan potensi-potensi bencana yang bisa saja terjadi di wilayah Kecamatan Tulung.
Potensi-potensi tersebut antara lain, terjadinya angin dengan intensitas tinggi, kemudian terjadinya banjir bandang, bahkan karena di wilayah Tulung dilewati oleh lempengan bumi, bisa terjadi gempa bumi.
“Kita perlu mengetahui potensi-potensi yang bisa saja terjadi diwilayah kita, sehingga kita bisa mengantisipasi lebih dini dari timbulnya bencana-bencana tersebut,” jelas Budi Prasetyo.
Untuk lebih membekali masyarakat apabila terjadi bencana, maka disarankan untuk para relawan harus dibekali ilmu yang cukup tentang kebencanaan. “Kita harus terus berlatih, bukan hanya sekedar tahu ilmunya,” tambah Budi Prasetyo. (hay)

Sharing is caring!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *