Lazismu Pusat dan MEK PDM Klaten Canangkan Gerakan Petani Bangkit

Para Petinggi Lazismu dan PDPM Bantu Petani Menanam Padi

KLATEN – Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah (Lazismu) Pusat dan Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) PDM Klaten membuat pilot project Gerakan Tani Bangkit sebagai satu cara pemihakan Muhammadiyah pada petani. Pilot project 3 tahun ini dilaksanakan di Desa Gempol, Kecamatan Karanganom,  Klaten bekerjasama dengan Gapoktan Dewi Sri Makmur.

Pilot project Gerakan Tani Bangkit  diresmikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah,   Hajriyanto Y  Thohari, pada Minggu, 14 Januari 2018. Peresmian   ditandai dengan tanam perdana benih padi Rojo Lele, satu jenis padi khas Klaten yang legendaris dan telah mengalami tahap-tahap pemuliaan sebagai benih padi unggulan di Kabupaten Klaten.

Peresmian dilakukan di Pusat Penelitian, Pelatihan dan Pengembangan Pertanian Terpadu (P4T) Desa Gempol ini  dihadiri oleh para petani Gempol dan sekitarnya, para aktivis Muhammadiyah dari Pusat, Wilayah, Daerah, hingga Ranting Gempol. Kemudian juga diikuti   pelajar Muhammadiyah yang tergabung dalam Kepanduan Hizbul Wathan (Pandu HW) dengan terjun sambil belajar menanam pagi. Acara dimeriahkan Drum Band SMK Muhammadiyah 2 Jatinom.

Ketua  PP Muhammadiyah,   Hajriyanto Y  Thohari dalam sambutannya mengatakan, melalui pilot project Gerakan Tani Bangkit tersebut, Muhammadiyah  berkomitmen membantu dan mendampingi Gapoktan Dewi Sri Makmur memperluas lahan pertanian organik dari yang sudah ada saat ini, 12 Ha. Dalam durasi 3 tahun (Januari 2018 – Desember 2020), akan ada penambahan lahan minimal 16 Ha dan melibatkan minimal 80 orang petani sebagai sasaran program.

Dikatakan, melalui pendekatan kelompok, petani  dipinjami modal kerja atau modal produksi dengan skema pembiayaan Qardhul-Hasan. Dengan skema ini, para petani tidak dikenai beban bagi hasil dan angsuran, tetapi mereka akan diajak/diedukasi untuk membayar zakat pertanian setiap habis panen sebesar 5% dari hasil panen bersih melalui Lazismu Daerah Klaten.

Kades Gempol, Drs Nusanto Herlambang, menambahkan, program ini terobosan dakwah yang bagus dan pantas didukung oleh siapapun yang peduli pada nasib petani. “Kami pun optimis, program ini nanti akan memiliki efek berantai yang luar biasa bagi warga Gempol. Paling tidak, di sini akan hidup pokja-pokja khusus pembibitan, pembuatan pupuk organik, pembuatan obat-obatan organik, dan pembuat aneka makanan olahan organik,” katanya.

Sementara itu Ketua MEK PDM Klaten, Wahyudi Nasution menyatakan, akumulasi dari zakat itu nanti akan dipergunakan lagi untuk mengadakan pelatihan-pelatihan dan perluasan lahan pertanian organik di Desa Gempol serta di desa-desa dan kecamatan lain yang memungkinkan.  Mudah-mudahan ketika Muktamar Muhammadiyah ke-48 tahun 2020 di Solo nanti, Gempol akan menjadi destinasi kunjungan studi banding para Muktamirin dan penggembira.

Wahyudi Nasution menegaskan, dasar pemikiran diadakannya Gerakan Tani Bangkit  karena Muhamamdiyah menilai sungguh ironis bahwa di negeri yang subur makmur ini, petani menjadi satu profesi yang paling tidak diminati oleh generasi muda. Profesi petani dipandang sebelah mata, bahkan oleh anak-anak petani sendiri di jaman NOW ini.

Menurut dia, anak-anak petani lebih cenderung bekerja di pabrik-pabrik meski dengan penghasilan atau upah yang rendah. Petani dipandang sebagai pekerjaan rendah, kotor, dan tidak bergengsi. Hasilnya pun tidak cukup untuk membiayai hidup.

Demikianlah yang terjadi dalam konteks sosial-ekonomi,  petani sebagai produsen kebutuhan pokok justru berada pada posisi marginal. Demikian halnya dalam konteks politik, keberadaan petani hanya sebagai objek penderita,  diperhitungkan suaranya, namun tidak diperhitungkan nasibnya.

Dengan kata lain, petani selalu menjadi korban kebijakan politik Negara, pada posisi lemah, bahkan tidak memiliki daya tawar terhadap pasar produknya sendiri. Sebut saja harga jual beras yang dibatasi dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) oleh Pemerintah, sementara harga kebutuhan lain yang  terus naik tanpa dapat kendali.

Dalam konteks  inilah Muhammadiyah merasa perlu hadir di tengah-tengah petani, menemani mereka untuk berjuang meningkatkan harkat dan martabat hidupnya. Oleh karena itu, Lazismu  Pusat dan  MEK PDM Klaten membuat pilot project Gerakan Tani Bangkit sebagai satu cara pemihakan Muhammadiyah pada petani di Klaten khususnya dan di Indonesia pada umumnya. (Paidi)

Sharing is caring!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *