Warga Tetap Menolak, BBWSSO Pastikan Tak Ada Normalisasi Kali Woro

KLATEN – Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) menyatakan kegiatan di alur Kali Woro, Kecamatan Kemalang, Klaten, bukan normalisasi melainkan hanya pemeliharaan.

Kepala BBWSSO, Tri Bayu Adji, menegaskan hal tersebut saat diwawancarai wartawan, Kamis (19/4/2018). Ia mengatakan lantaran ada keterbatasan pendanaan dari BBWSSO kegiatan pemeliharaan dikerjasamakan dengan pihak ketiga menyesuaikan dengan kebutuhan BBWSSO.

“Kali Woro itu sebenarnya masuk BBWSBS [Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo]. Tetapi, khususnya Kali Woro  sampai batas Kali Dengkeng kami kerja sama, dibebankan ke BBWSSO. Di sana sedang membangun beberapa sabo dam sesuai masterplan,” katanya.

Terkait proses pemeliharaan, Bayu menegaskan pihak ketiga yang melaksanakan kegiatan sudah diminta melakukan sosialisasi dan merangkul warga setempat sebelum kegiatan digulirkan. Proses pemeliharaan dilakukan dengan menyingkirkan material sepanjang alur kali ke tepian.

Soal pengeluaran material sisa pemeliharaan, Bayu menjelaskan harus ada izin dari pemerintah provinsi. “Jadi izin rekomendasi dari balai besar hanya memelihara sungai. Hasil pemeliharaan ditumpuk di kanan dan kiri sungai. Apabila ada pihak lain yang ingin memanfaatkan hasil pemeliharaan harus mengajukan izin ke Semarang [Pemprov Jateng]. Kalau dia tidak punya izin dan mengambil material itu, artinya sudah melanggar hukum,” katanya.

Sementara itu, menurut informasi yang diperoleh , BBWSSO mengeluarkan rekomendasi teknis (rekomtek) kegiatan pemeliharaan Kali Woro kepada PT Apollu Nusa Konstruksi. Terkait penolakan para penambang tentang rencana pemeliharaan itu, BBWSSO belum bisa memberikan saran.

“Kami belum tahu sejauh mana penolakan itu. Jadi kami belum bisa memberikan saran,” kata Kasi Perizinan BBWSSO, Rusdiansyah.

Setelah ada penolakan dari para penambang, belum ada kelanjutan rencana normalisasi pemeliharaan alur Kali Woro di wilayah Desa Sidorejo dan Balerante, Kecamatan Kemalang. Camat Kemalang, Kusdiyono, mengatakan belum ada informasi lanjutan soal digelarnya kembali sosialisasi kepada warga.

Ia menjelaskan saat sosialisasi dilakukan pada Sabtu (7/4/2018) lalu, ratusan warga yang selama ini mengais rezeki sebagai penambang tradisional langsung bereaksi dan menolak. “Bagi warga itu Kali Woro merupakan sumber mata pencaharian mereka. Kalau sikap kami tergantung masyarakatnya. Hingga saat ini belum ada rencana sosialisasi lanjutan. Setahu saya baru satu perusahaan itu yang akan melakukan normalisasi. Kemarin kami juga sebatas diundang untuk mengikuti sosialisasi itu,” kata Kusdiyono .

Sharing is caring!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *