2 Desa di Polanharjo Jadi Lokasi Pengembangan Rojo Lele

POLANHARJO – Dua desa di wilayah Kecamatan Polanharjo menjadi lokasi pengembangan padi rojo lele. Pengembangan dilakukan oleh Pemkab Klaten yang bekerjasama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dalam perluasan penanaman padi varietas rojo lele di 15 desa.
Di wilayah Polanharjo, dua desa yang digunakan untuk perluasan rojo lele yakni Desa Glagahwangi dan Sidowayah.

Perluasan penanaman padi tersebut merupakan uji multilokasi sebelum benih padi dilepas secara umum. Varietas tersebut dikenal memiliki usia panen yang lebih cepat. Namun, memiliki kualitas sama dengan padi raja lele yang selama ini dikenal harum, wangi, dan pulen.
Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Klaten, Drs Bambang Sigit Sinugroho, MM mengatakan kali terakhir benih padi hasil penelitian diajukan untuk uji ketahanan hama di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Subang, Jawa Barat pada 2017 lalu.
Dari hasil pengujian, benih padi rojo lele hasil penelitian dinyatakan lolos uji terutama terhadap hama wereng.

“Memang sudah dinyatakan lolos uji ketahanan hama. Namun, perlu ada uji multilokasi. Perlu dicek dulu di banyak lokasi hasilnya seperti apa,” kata Bambang kepada wartawan beberapa waktu lalu.
Perluasan tanam benih padi hasil penelitian tersebut dilaku kan di 15 lokasi berbeda. Belasan lokasi itu termasuk empat lokasi yang sebelumnya digunakan un tuk penanaman benih padi rojo lele hasil penelitian.

Selain dua desa di Polanharjo, desa lain yang juga digunakan untuk perluasan pengembangan rojo lele antara lain Desa Kokosan (Prambanan), Sembung (Wedi), Wonosari (Trucuk), Sukorini (Manisrenggo), Gempol (Karanganom), Gledeg (Karanganom), Ngrundul, (Kebonarum), Bulurejo (Juwiring), Sekaran (Wonosari), Bener (Wonosari), Tlobong (Delanggu), Karangasem (Cawas) dan Tumpukan (Karangdowo).

“Nanti terlihat di daerah mana saja yang hasilnya bagus. Itu yang nanti akan terus dikembangkan. Saat ini untuk usia padi yang ditanam sekitar 40 hari,” ujarnya.

Sementara itu, Kasubbid Pengendalian dan Evaluasi Bidang Penelitian Pengembangan Pe ngendalian dan Evaluasi Bappeda Klaten, Sri Yuwana Haris Yulianta, mengatakan di masing-masing lokasi padi ditanam di sawah seluas 1.000 meter persegi. Haris mengatakan uji multilokasi perlu dilakukan selama dua kali.

“Habis tanaman ini panen sekitar pertengahan Juni, dilanjutkan uji yang kedua. Setelah itu me nyusun proposal pelepasan varietas yang baru hasil pemuliaan dengan nama yang berbeda,” katanya.
Camat Polanharjo, Milias DA menyambut baik dua desa di wilayahnya menjadi lokasi perluasan pengembangan rojo lele. “Ini baru uji coba dengan memperluas lokasi tanam, nanti setelah berhasil, tentu kita akan koordinasi dengan pengurus Gapoktan untuk dibudidayakan sendiri, tentunya se-Polanharjo,” tutur Camat Milias.

Camat Milias mengaku hingga saat ini masih menunggu hasil panen hasil perluasan tanaman rojo lele. “Kita terus koordinasi dengan dua desa itu, dan semoga hasil panen nanti memuaskan,” pungkas Camat Milias. (bud)

Sharing is caring!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *