Buntut Tes Seleksi Pengisian Perdes, Kinerja UAD Dinilai Tak Profesional

KARANGANOM –  Belasan warga dari dua desa, yakni Desa Pondok dan Gempol, Kecamatan Karanganom, Kamis (3/5/2018) mendatangi Kantor Kecamatan Karanganom. Mereka ingin bertemu dengan tim korektor dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta yang sudah mendapat rekomendasi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten sebagai tim penguji wilayah tersebut.

Belasan warga tersebut tidak terima dengan hasil tes seleksi calon perangkat desa (Cakatdes) puluhan warga di Desa Gempol dan Desa Pondok. Mereka menilai tim seleksi kurang profesional. Ia juga menilai bahwa tim penguji dari UAD adalah produk gagal.

“Saya menganggap bahwa ini sebuah produk gagal, karena hasil pertama (soal) adalah hasil yang salah. Kedua, hasil revisi tidak memiliki dasar,” kata salah satu perwakilan warga Desa Gempol, Fajar.

Fajar yang juga sebagai peserta tes seleksi Perangkat Desa Gempol menolak revisi hasil seleksi perangkat desa dari UAD. “Kami akan mengajukan aspirasi ke BPD (Badan Permusyawaratan Desa). Dari jadwal pengumuman saja sudah salah. Pengumuman dijadwalkan pukul 16.00 WIB molor hingga pukul 11.00 WIB malam ini sudah tidak fair,” ujar Fajar, Kamis (3/5/2018) sebelum masuk ruangan Aula  Kecamatan Karanganom.

Sementara itu, Rahmad Muhajir Nugroho selaku penanggungjawab tim penguji dari UAD di Desa Gempol, mengakui ada kekeliruan dalam menyeleksi hasil seleksi. Namun pihaknya mengatakan, kekeliruan itu hal yang wajar.

“Kesalahan itu sudah direvisi pada malam harinya. Ya, mereka belum bisa menerima hasil pertemuan ini. Kami juga akan menyiapkan tim avokad untuk menjawab pertanyaan mereka apabila akan melakukan gugatan ke pengadilan,” jelasnya.

Terpisah, salah satu peserta ujian seleksi yang berasal dari Desa Kwaren, Abdul Muslih mengatakan kejanggalan dirasakan selama proses ujian hingga pengumuman hasil ujian itu sendiri. Menurut Muslih, tim penguji yang dalam hal ini adalah pihak perguruan tinggi tidak memiliki persiapan secara matang untuk menyelenggarakan ujian.

Muslih menceritakan, kejanggalan yang paling terlihat yakni pada saat proses koreksi lembar jawaban peserta. Pasalnya, dari batas waktu hasil pengumuman yang diprediksi dilakukan pukul 16.00 WIB justru molor hampir tengah malam. Ia mempertanyakan apa yang terjadi selama proses koreksi itu hingga memakan waktu sangat lama.

“Kita dapat informasi akan diumumkan sore, lalu molor hingga pukul 19.00 WIB. Tapi setelah kita tunggu ternyata molor juga hingga malam hari. Apa yang sebenarnya terjadi, harusnya kan bisa memperhitungkan berapa lama waktu yang dibutuhkan,” kata dia. (bud)

Sharing is caring!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *